Tinggal 26 Hari di Desa Campor yang Kental akan Kearifan Lokalnya

by - August 13, 2018

Suasana pagi hari bukit tembun

Bangga masih kuliah dan masih diberi kesempatan untuk hidup bersama dengan masyarakat yang berlatar belakang desa. Membuatku selalu bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan untukku. Mengapa begitu? yaa, tinggal selama 26 hari di desa orang lain yang tentunya berbeda budaya dengan desa kita semasa kecil. Beda latar belakang budaya, bahasa dan pekerjaan yang dilakukan. Namun bagiku yang notabennya berasal dari desajuga, aku tidak terlalu mengalami kesulitan dalaM berinteraksi. Kemudahan itu juga terjadi kerena samanya bahasa yang kami gunakan. Berbeda dengan beberapa temanku yang agak kesulitan dalam berbahasa. Rata - rata masyarakat kampung Tlageh kurang bisa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa nasional, hal ini yang kadang menghambat teman - temanku dalam berkomunikasi. Perbedaan bahasa yang menjadi faktor utama ini tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap berinteraksi dengan warga kampung Tlageh. Ramahnya masyarakat ini menjadi modal utama bagi kami berinteraksi. 

Tak jarang disela - sela kegiatan, kami ikut serta membantu pekerjaan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani. Saat itu, musim panen jagung. Rata - rata disetiap sawah jagung terpapar nyata untuk segera dipanen. Menurut mereka, bulan ini memang lagi musim jagung, setelah jagung akan ada kacang tanah yang akan siap ditabur. Nah, sembari berbincang selama panen jagung hal yang ditunggu - tunggu nyata telah tiba. Satu bak jagung kita dapat. Hahahaha bukan hal yang kami inginkan sebenarnya, namun tak bisa kami tolak. rejeki anak soleh


You May Also Like

1 comments