Lagu Kebangsaan dari Pahlawanku

by - November 12, 2017

Siapa Wage?

Wage ialah seorang pemuda sederhana kurus berkacamata. Bukan putra dari keluarga bangsawan maupun anak orang kaya. Ia adalah seorang penulis, jurnalis dan pandai bermain musik. Banyak lagu kebangsaan yang telah ia ciptakan, yang paling menggelora adalah Indonesia Raya. Ya, wage yang dimaksud disini adalah pencitpa lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan W.R.Soepratman. Singkatan dari Wage Rudolf Soepratman. Wage adalah nama aslinya sejak kecil.



Film ‘Wage’ diawali dengan adegan masa kecil Wage yang memang begitu kelam, hingga pada kematiannya di tahun 1938 yang mengidam-idamkan kemerdekaan pun ditampilkan begitu epic dalam film berdurasi 120 menit ini. Namun, semangat dan cita-citanya mengidam-idamkan Indonesia merdeka sungguh terasa dan hidup. Sosok Wage diperankan sangat bagus oleh aktor Rendra Bagus Pamungkas. Wage disini merupakan seorang pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan sisi yang berbeda. Ia tidak berjuang dengan fisik malankan berjuang dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Berkat lagu tersebut, para pahlawan kita semangat berjuang.

Lagu kebangsaan  Indonesia Raya mulai diperdengarkan pada 28 Oktober 1928 pada masa kongres pemuda II. Perdebatan tentang hadirnya lagu Indonesia Raya saat kongres pemuda II juga begitu tertata apik saat Wage memainkan biolanya dengan sangat menawan, meskipun tidak boleh ada syair yang keluar saat permainan biola tersebut. Hal ini dikarenakan masa kongres pemuda II dijaga ketat oleh Belanda.Di film ini ditampilkan begitu gamblang perjuangan Wage dalam menghasilkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan proses kreatif yang panjang. Wage sempat frustasi, tapi semangatnya kembali dipompa Gadis (diperankan Prisia Nasution), sang pujaan hati.

Film ‘Wage’ mengingatkan kita pada syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang lengkap tiga stanza. Ada dua stanza yang kita abaikan, dimana stanza kedua sebagai doa dan stanza ketiga mengilustrasikan makna perjuangan. Selama ini kita hanya pakai satu stanza yang sebagaimana kita nyanyikan bersama setiap upacara bendera di sekolah maupun di instansi pemerintahan. Banyak kesan dan hal baik yang saya tangkap saat menonton film ini. Seperti ketika Mas Sosro menjelaskan pada Wage tentang filosofi huruf alif yang lurus seperti stik biola yang digunakan untuk menggesek senar sehingga lahir alunan nada yang indah. 

Cuplikan Film Wge memainkan biolanya

Kisah beliau yang digambarkan secara apik oleh John de Rantau dan tim-nya, selayaknya menyadarkan kita, pentingnya untuk mulai menciptakan karya dalam bentuk apapun, sesuai dengan yang bisa kita lakukan. Mungkin di masa Indonesia sedang digoncang banyak masalah, film ini bisa memberikan refleksi untuk kita. Untuk kita mulai bertanya pada diri sendiri di depan cermin, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa dan negara ini?”


Saya berharap, film ini dapat ditonton oleh seluruh generasi milenial dan bahkan gen Z yang butuh tahu bahwa ada kekuatan yang besar dari sebuah karya. Bagaimana sebuah lagu dapat mengubah dunia, bagaimana “Indonesia Raya” mampu memanaskan darah juang para pemuda untuk merebut kemerdekaan Indonesia!

You May Also Like

0 comments