Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat sekitar Patung Budha Tidur Mojokerto

by - April 05, 2017

Patung Budha Tidur - Mojokerto
















Literasi Budaya - Masyarakat Mojokerto tergolong masyarakat di jaman modern ini masih menghormati kebudayaan dan turut melestarikan. kebudayaan Majapahit hingga saat ini menjadi salah satu objek wisata dan cagar budaya di Kabupaten Mojokerto. 
Pembentuk budaya menurut Koentjoningrat memiliki 7 unsur. Ketujuh unsur ketika dikaitkan seperti dibawah ini :
·      Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan bagi masyarakat Mojokerto khususnya kecamatan Trowulan, masyarakat sekitar memiliki pendidikan yang standard sama seperti daerah lain. Hanya saja ketika kita menyinggung kebudayaan Budha dalam system pengetahuannya berbeda dengan masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam. Ketika di Madura masyarakat yang beragama islam melakukan pendidikan sekolah madrasah dan mengaji di “Langgar”, masyarakat Budha tidak miliki rutinitas semacam itu. Tetapi ketika seseorang menginginkan menjadi seorang biksu.
Memiliki berbagai macam kebudayaan terutama pada kebudayaan Majapahit menjadi hal positif bagi masyarakat sekitar. Kerajaan Majapahit dulu berada di Mojokerto tanpa membawa identitas agama, bahasa atau ras, rombongan Kerajaan Majapahit datang ke Indonesia khususnya di wilayah Mojokerto untuk mempererat dan menyatukan Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama dan bahasa serta kebudayaan.
Tidak semua kecamatan yang ada di Mojokerto memiliki wisata dan cagar budaya Budha disetiap wilayahnya. Dari ke 19 kecamatan yang ada di Kota Mojokerto, hanya satu kecamatan yang memiliki wisata dan cagar budaya ini, yaitu Kecamatan Trowulan. Berada pada wilayah perbatasan dan berada pada paling barat Mojokerto dan hamper berada pada wilayah timur Jombang. Trowulan dikatakan sebagai Kompleks Peninggalan Kerajaan Majapahit. Terlihat ketika sudah masuk wilayah trowulan kita akan dijumpai dengan adanya nuansa Budha dengan bangunan bangunan disepanjang jalan menuju lokasi cagar budaya seperti pada wisata religi Patung Budha Tidur. Memberikan nuansa candi ini dilakukan oleh pemerintah kota Mojokerto bekerja sama dengan masyarakat Trowulan.
·      Bahasa
Agama Budha barasal dari kerajaan kosala kapilawatsu dan peninggalan - peninggalan jaman Budha ada di sekitar India dan Nepa, pada jaman itu saat  sang Budha menyampaikan ajarannya di daerah itu mengunakan  bahasa Pali dan Sansekerta.
Sansekerta merupakan salah satu bahasa tertua di India bahasa ini di gunakan sansekerta  veda pada tahun 1500 SM, namun di duga sansekerta berumur lebih tua mengingat sebelumnya tradisi menulis belum berkembang sehingga sulit untuk memastikan bahasa kuno ini, bahasa Indonesia di kenal sebagai bahasa indo – arya yaitu sebuah cabang besar dan beragam dari keluarga bahasa indo -eropa dengan sansekera paling berpengaruh dan terkenal,kata sansekerta di terjemahkan dalam beberapa arti berbeda seperti (lengkap,sempurna dan menarik bersama-sama) asal dari bahasa sansekerta berasal pada dialek lisan yang kemudian di organisasi sehingga menjadi bentuk yang lebih moderen sekitar tahun 500 SM selain itu sansekerta  adalah bahasa klasik dari india kuno yang lazim di gunakan oleh semua anggota masyarkat kelas tinggi dan berbudaya, salah satu contoh bahasa sansektra yaitu "Dosa".
Bahasa pali  merupakan sebuah bahasa indo – arya dan merupakan sebuah bahasa partnernya atau perakit kata palii sendiri  artinya adalah baris atau garis arau teks (konanik) dan sekarang di golongkan dalam bahasa sastra, sementara tidaklah pasti apakah bahasa palu di gunakan dalam bahasa sehari hari, kosakata pali berakar dari bahasa sansekerta  namun dengan makna yang sedikit berbeda  di sesuaikan dengan ajaran budha, kosakata yang serupa anatara sansekerta dan bahasa palu justru menunjukkan perlawannan kata, contohnya  kalangan budha tidak menyuka adanya jiwa atau sifat  esensial pada suatu benda, sehingga di gunakan istilah "dhamma" untuk merefleksikan hal tersebut ( dalama bahas sansekerta bearti dharma ) bahasa palu sering di pandang  sebagai bahasa suci melebihi  bahasa sansekerta,karna sang budha di perkiakan mengunakan bahasa bahasa palu sewaktu menyampaikan ajarannya.
Jadi pada saat ini dua bahasa tersebut tetap di pakai namun dengan  seiring dengan berjalannya waktu  agam itu berkembang ke daerah – daerah tertentu  yang mana di dalam agama budha mengikuti adat  budaya dan bahasa daerah tersebut yang artinya di dalam agama budha mau pakai bahasa apapun  tidak masalah, akan tetapi lebih banyak dan dominan memakai bahasa palii  dan sansekerta.bukan karna bahasa pali dan sansekerta itu bahsa yang suci  yang penting arti dari bahasa palu itu apa dan dalam bahasa sansekerta itu apa.
Dalam agama budha tahu atau hafal doa dalam agama budha  tetapi tidak tahu arti bahasa indonesianya percuma ,jadi mau pakai bahasa jawa ,indonesia ,madura tidak masalah  yang penting tahu artiny namun dalam ritual tata caranya mereka memakai bahasa tertentu, misalnya pali dan sansekerta,salah satu contoh bahasa sansekerta dan pali saat beribadah( namo sang yang adi budhaya ) yang artinya terpujilah Tuhan Yang Maha Esa.
·      Sistem Religi
Sistem religi selalu dikaitkan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat setempat, penelitian yang kami lakukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto membawa hasil bahwa penduduk desa setempat menganut system religi islami dan hanya beberapa yang menganut system religi budha itupun hanya dari pendatang saja. Dari penduduk asli Desa setempat tidak ada yang beragama Budha, mayoritas beragama Islam meskipun kental dengan kebudayaan budha.
Kegiatan religi Islam yang dilakukan di sana yaitu pengajian dan hadrah. Sedangkan kegiatan religi Budha yaitu peringatan houl kematian. Selain itu penduduk yang beragama budha mengadakan kegiatan di hari besar , yaitu seperti Hari Raya Waisak. Kegiatan di hari Raya Waisak yaitu sembahyang, memberikan sesajen, berdoa sambil mengelilingi patung budha tidur.
·      Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk pasti tidak lepas pendidikan yang dimiliknya, sebagian besar warganya bermata pencaharian petani dan pengrajin batu bata. Pada Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Mojokerto di tempat pariwisata Mahavihara Majapahit (Budha Tidur) warga sekitar tempat tersebut banyak sekali berjualan pernak-pernik, jajanan, makanan, oleh-oleh, bahkan sebelum sampai ke tempat wisata Buddha Tidur kita dapat melihat pinggir-pinggir rumah warga sekitar terdapat patung budha yang sangat berbagai macam.
Sedari dulu di Trowulan adalah kawasan  yang subur, letaknya di pinggiran sungai brantas membuat lahan pertanian diusahakan sepanjang musim, selain bertani, masyarakat Trowulan juga mengembangkan seni kerajian dari tanah liat, batu dan logam sebgai mata pencaharian. Di Trowulan juga terdapat banyak industri pembuatan batu bata sebagai salah satu bahan pokok bangunan tempat tinggal, industri ini bisa ditemui hampir setiap sudut desa di Trowulan.Kerajinan memahat batu, mengolah logam dan pembuatan terakota juga banyak ditemukan di kawasan ini terutama di Desa Bejijong.Dan warisan dari nenek moyang terdahulu masih terpelihara sampai kini di Trowulan.
·      Hubungan Sosial Masyarakat

Dalam kegiatan bermasyarakat atau berinteraksi kuhsusnya di daerah vihara budha yang ada di kota Mojokerto Trowulan umumnya sama dengan kegiatan masyarakat lainnya di luar kota tersebut. Agama Budha termasuk agama minoritas yang ada di daerah tersebut kebanyakan ditempati orang-orang islam, namun hebatnya masyakarat disana sangat menghormati dengan adanya vihara budha atau tempat beribadah tersebut. dalam system masyarakat atau kegiatan sosial yang dilakukan oleh pihak Vihara, banyak sekali kegiatan sosial yang diselenggarakan disana dan kegiatan tersebut sangat menguntungkan bagi pihak masyarakat disekitar tersebut, mungkin kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa terima kasih terhadap masyarakat mayoritas dengan menerima Vihara sebagai tempat beribadah orang-orang budha. Contoh dari kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Vihara yaitu Bakti Sosial yand di dalamnya terdapat pengobatan gratis yang ditujukan khususnya kepada masyarakat di sekitar vihara jadi masyarakat bisa mendapat semua itu dengan gratis dan juga sekaligus dapat mendonorkan darahnya kepada pihak vihara yang akan disalurkan kepada pihak rumah sakit dan sebagainnya terus ada juga kegiatan yang yang lain seperti gotong royong dan lain sebagainya tidak jauh beda dengan daerah yang lain, namun ada pula kegiatan dari luar organisasi masyarakat seperti kegiatan yang dilakukan SMK Sanwis Surabaya, Bali, dan dari Surabaya sunan ampel banyak sekali kegiatan yang melibatkan vihara budha ini. Vihara budha mojokerto memang agama minoritas namun tempat ini sudah dikenal keberbagai penjuru nusantara ini artinya banyak pengunjung yang sudah pernah mengunjungi tempat ini menurut saryono yaitu yang mengurus tempat vihara terbilang 10.000 ribu orang yang sudah tercatat dan bahkan lebih dari itu.  Adapun sejarah dan kebudayan masyarakat mojokerto yaitu dari bermulanya kerajaan mojopahit. 
Disusun oleh tim super yaitu :
1. Vivi Lutviana
2. Nikmal Wafiroh
3. Amalia Nadhila
4. Subaidah
5. Risman Adiwijaya
6. Asyari
7. Ayu Fitria

You May Also Like

0 comments